Studi kasus mengenai fungsi manajemen penggerakan dan pengawasan Sumber Daya Manusia

DISIPLIN GURU SEKOLAH DASAR

DI DELI SERDANG MEMPRIHATINKAN

 

 

STUDI KASUS

Oleh:

Lutfia Ambarwati

110131405777

 

 

 

 

 

 

 

 

UNIVERSITAS NEGERI MALANG

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

JURUSAN ADMINISTRASI PENDIDIKAN

Desember 2012

  1. I.     JUDUL KASUS

 

Judul kasus     : Disiplin Guru SD di Deli Serdang Memprihatinkan

Waktu             : 20 November 2008 Pukul 14:04 WIB

Tempat            : Kabupaten Deli, Serdang, Medan, Sumatra Utara

Masalah          : Ketidakdisiplinan Guru di Sekolah

 

  1. II.   KONTEKS KASUS

Studi kasus mengenai fungsi manajemen penggerakan dan pengawasan Sumber Daya Manusia

Medan, 20/11 (ANTARA) – Disiplin para guru Sekolah Dasar (SD) di Kabupaten Deli Serdang, Sumut, terkesan memprihatinkan, karena sering terlambat masuk ke sekolah sehingga merugikan anak didik. Bahkan ada guru yang bekerja di lahan pertaniannya ketika jam dinas kerja, yang mengakibatkan anak didiknya seperti “anak ayam kehilangan induk”.

Gambaran yang menyedihkan itu justru terjadi di Deli Tua, ibukota Kecamatan Deli Tua yang jaraknya sekitar 10 km dari jantung kota Medan atau 40 km dari Lubuk Pakam, ibukota kabupaten. Di kota kecil yang sesak dan padat penduduknya itu terdapat sedikitnya tujuh SD Negeri dan belasan SD swasta termasuk Ibtidaiyah.

Salah seorang pengawas dari kantor cabang Dinas Pendidikan kecamatan, terkejut setengah mati ketika mendatangi salah satu SD, karena ada murid bermain-main di halaman sekolah pada jam belajar. Setelah diperiksa, ternyata ada lokal yang tidak ada gurunya. Melalui hand phone (hp) guru tersebut dihubungi, akan tetapi jawaban yang diterima benar-benar menyebalkan

“Saya sedang di ladang, pak,” terdengar jawaban dari seberang. Mendengar jawaban yang seenak perutnya itu, pengawas sekolah tersebut segera berteriak dengan keras, “Ladangmu di sekolah ini bukan di sana”. Tidak diketahui kelanjutan dari kasus tersebut, karena para guru, pejabat pendidikan kecamatan melakukan gerakan tutup mulut (GTM) ketika ANTARA melakukan konfirmasi, Kamis. Tiap kantor cabang Dinas pendidikan kecamatan memiliki tiga orang pengawas, dan seorang di antaranya menggerutu dengan mengatakan, guru seperti itu tidak pantas naik golongan.

Selain ada yang membolos tugas, ada sekolah yang guru-gurunya terlambat masuk, yang mengakibatkan murid-muridnya pontang-panting berlarian ke sana kemari. Beberapa guru honorer yang ditempatkan di sekolah tersebut kerja keras menertibkan para murid agar masuk ke kelas masing-masing. Ternyata guru-guru honorer yang penghasilannya di bawah standar, memiliki disiplin yang terpuji.

Di sebuah SD lainnya yang lokasinya tidak jauh dari kantor cabang Dinas Pendidikan kecamatan, kepala sekolahnya sering membolos, karena jadi buronan para penagih hutang (debt collector). Dengan dikucurkannya dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS), kebiasaan yang tidak terpuji itu sudah mereda. Di kampung-kampung yang jauh dari ibukota kabupaten, disiplin guru cukup tinggi, karena malu ditegur orang kampung jika membolos kerja. Mereka cukup akrab dengan lingkungan sekitarnya dan profesi guru merupakan pekerjaan yang terpandang.

 

  1. III.      RUMUSAN MASALAH

 

Dalam masalah pendidikan dari kasus yang ditemukan, masalah-masalah yang muncul antara lain:

  1. Rendahnya disiplin guru di sekolah.
  2. Terabaikannya anak didik di sekolah.
  3. Guru bekerja di lahan pertanian pada saat jam kerja dinas.
  4. Guru lebih memilih menggarap ladang daripada mengajar di sekolah.
  5. Guru sering membolos saat jam mengajar.
  6. Guru honorer lebih berperan aktif di sekolah dari pada guru tetap.
  7. Tugas dan tanggung jawab guru yang membolos menjadi beban guru

honorer.

  1. Banyak tugas guru yang terbengkalai.
  2. Diperlukannya motivasi untuk peningkatan kedisiplinan terhadap guru di sekolah tersebut.
  3. Perlu ditingkatkan pengawasan terhadap kedisiplinan guru di sekolah baik oleh pihak kepala maupun oleh pihak pengawas dinas pendidikan.

 

 

  1. IV.   ANALISIS SWOT TERHADAP KASUS

 

  1. 1.      Strength (S), adalah situasi atau kondisi yang merupakan kekuatan dari organisasi atau program pada saat ini.

Dari kasus yang ditelah ditemukan, kekuatan dari kasus diatas yaitu:

  • Ø Pengawasan terhadap kedisiplinan guru di sekolah harus dilaksanakan dengan baik.
  • Ø Peran serta masyarakat dalam pemberian motivasi kepada guru di sekolah agar mereka lebih disiplin.
  • Ø Mendidik adalah kewajiban utama seorang guru.
  • Ø Menerapkan ancaman penurunan golongan terhadap guru yang tidak disiplin dan suka membolos.
  • Ø Menerapkan sistem presensi yang tidak bisa diwakilkan atau dititipkan, seperti finjer print.

 

  1. 2.      Weakness(W), adalah situasi atau kondisi yang merupakan kelemahan dari organisasi atau program pada saat ini.

Untuk kelemahan yang dapat dianalasis dari kasus diatas adalah:

  • Ø Standar kedisiplinan guru di sekolah yang kurang diperketat.
  • Ø Guru yang masih belum sadar akan tanggung jawab dan kewajibannya sebagai seorang pendidik.
  • Ø Tidak adanya perhatiaan dari kepala sekolah terhadap guru yang sering terlambat dan membolos mengajar.
  • Ø Ada tidaknya pengawasan dari pihak sekolah maupun pihak Dinas Pendidikan.
  • Ø Ada tidaknya keteladanan pimpinan dalam sekolah tersebut.
  • Ø Tidak Keberanian kepala sekolah dalam mengambil tindakan.

 

  1. 3.      Opportunity (O), adalah situasi atau kondisi yang merupakan peluang diluar organisasi dan memberikan peluang berkembang bagi organisasi dimasa depan.

dari kasus diatas dapat dianalisis sebagai berikut:

  • Ø Perlunya pemberian motivasi kepada para guru oleh kepala sekolah.
  • Ø Perlu adanya pengawasan yang lebih intensif dari pihak Dinas Pendidikan.
  • Ø Perlu adanya peran serta masyarakat di sekitar lingkungan sekolah dalam meningkatkan kedisiplinan guru di sekolah.
  • Ø Perlu diberikannya kegiatan supervisi kepada guru yang sering terlambat dan membolos oleh pihak sekolah.

 

  1. 4.      Threat (T), adalah situasi yang merupakan ancaman bagi organisasi yang datang dari luar organisasi dan dapat mengancam eksistensi organisasi dimasa depan.

Analisis dari kasus yang telah ditemukan sebagai berikut:

 

Ancaman internal

  • Ø Guru harus mampu bersikap disiplin.
  • Ø Guru harus menyadari akan tugas dan tanggung jawabnya.
  • Ø Kepala sekolah harus mampu memberikan motivasi kepada para guru dan dapat menjadi supervisor para guru di sekolah.
  • Ø Siswa malas untuk bersekolah
  • Ø Kegiatan belajar mengajar terbengkalai

Ancaman Eksternal

  • Ø Kepercayaan masyarakat berkurang terhadap sekolah tersebut.
  • Ø Sekolah bisa jadi tidak memiliki murid di tahun berikutnya
  • Ø Tujuan sekolah tidak tercapai
  • Ø Lulusan tidak sesuai dengan yang diharapkan
  • Ø Kenaikan golongan guru terancam.

 

 

  1. V.      KAJIAN TEORI UNTUK MEMECAHKAN KASUS

 

  1. 1.      Teori  Dan Analisis Tentang Disiplin Kerja

Disiplin kerja sangat penting bagi pegawai yang bersangkutan maupun bagi organisasi karena disiplin kerja akan mempengaruhi produktivitas kerja pegawai. Oleh karena itu, pegawai merupakan motor penggerak utama dalam organisasi. Disiplin kerja yang baik mencerminkan besarnya rasa tanggung jawab sesorang terhadap tugas-tugas yang diberikan kepadanya. Menurut Hasibuan (2005) menyatakan bahwa “Disiplin adalah kesadaran dan kesediaan seseorang mentaati semua peraturan perusahaan dan norma-norma sosial yang berlaku”. Sedangkan menurut Sutrisno (2009) menyatakan “Disiplin menunjukkan suatu kondisi atau sikap hormat yang ada pada diri karyawan terhadap peraturan dan ketepatan suatu organisasi”.

Berdasarkan pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa disiplin kerja adalah suatu keadaan tertib dimana keadaan seseorang atau sekelompok orang yang tergabung dalam organisasi tersebut berkehendak mematuhi dan menjalankan peraturan-peraturan perusahaan baik yang tertulis maupun tidak tertulis dengan dilandasi kesadaran dan keinsyafan akan tercapainya suatu kondisi antara keinginan dan kenyataan dan diharapkan agar para pegawai memiliki sikap disiplin yang tinggi dalam bekerja sehingga produktivitasnya meningkat.

Tujuan disiplin kerja adalah untuk meningkatkan efisiensi kerja semaksimal mungkin dengan cara mencegah pemborosan waktu dan energi. Disiplin kerja dibutuhkan untuk tujuan organisasi yang lebih jauh, guna menjaga efisiensi dan mencegah dan mengoreksi tindakan-tindakan individu dalam itikad tidak baik terhadap kelompok. Secara khusus tujuan disiplin kerja para pegawai, antara lain :

1) Agar para pegawai menepati segala peraturan dan kebijakan ketenagakerjaan maupun peraturan dan kebijakan organisasi yang berlaku, baik tertulis maupun tidak tertulis, serta melaksanakan perintah manajemen dengan baik,

2)   Pegawai dapat melaksanakan pekerjaan dengan sebaik-baiknya serta mampu memberikan pelayanan yang maksimum kepada pihak tertentu yang berkepentingan dengan organisasi sesuai dengan bidang pekerjaan yang diberikan kepadanya,

3)   Pegawai dapat menggunakan, dan memelihara sarana dan prasarana, barang dan jasa organisasi dengan sebaik-baiknya,

4)   Para pegawai dapat bertindak dan berpartisipasi sesuai dengan norma-norma yang berlaku pada organisasi,

5)   Pegawai mampu menghasilkan produktivitas yang tinggi sesuai dengan harapan organisasi, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Dari teori yang ada dapat dianalisis bahwa kedisiplan guru dalam kasus tersebut harusnya tidak terjadi atau bahkan tidak seharusnya ada atau terjadi. Karena dilihat dari pengertian kedisiplinan sendiri, bahwa disiplin kerja itu sangat penting bagi guru yang bersangkutan maupun bagi sekolah yang bersangkutan karena disiplin kerja ini sangat mempengaruhi produktivitas kerja guru.

Dalam kasus dijelaskan bahwa guru lebih mementingkan bekerja diladang daripada mengajar di sekolah. Hal ini dikarenakn kurang adanya kesadaran diri guru terhadap tanggung jawab dan kewajiban mereka sebagai guru. Dalam masalah ini banyak pihak yang perlu berperan aktif, seperti kepala sekolah yang harus lebih memperhatikan para guru di sekolah.

Untuk guru yang sering membolos di kerja, perlu adanya tindak lanjut oleh pihak sekolah terhadap guru tersebut. Mungkin kepala sekoilah perlu menegur guru tersebut dan memberikan ancaman terlebih dahulu, bila guru tersebut masih saja seperti itu mungkin perlu adanya hukuman yang harus diberikan keada guru yang bersangkutan.

Dengan pengawasan melekat berarti atasan langsung harus aktif dan langsung mengawasi perilaku, moral, sikap, gairah kerja, dan prestasi kerja bawahannya. Hal ini berarti atasan harus selalu hadir ditempat kerja agar dapat mengawasi dan memberikan petunjuk, jika ada bawahannya yang mengalami kesulitan dalam menyelasaikan tugasnya. Waskat efektif merangsang kedisiplinan dan moral kerja pegawai. Pegawai merasa mendapat perhatian, bimbingan, pengarahan, petunjuk, dan pengawasan dari atasannya. Dengan waskat, atasan secara langsung dapat pengetahui kemampuan dan kedisiplinan setiap individu bawahannya, sehingga kondute setiap bawahan dinilai objektif. Jadi waskat menuntut adanya kebersamaan aktif antara pimpinan dan pegawai dalam mencapai tujuan    organisasi.

Berdasarkan uraian tentang pengawasan diatas jelas bahwa pengawasan dalam meningkatkan kedisiplinan kerja sangat penting. Pengawaan yang melekat yang dilakukan oleh kepala sekolah secara langsung sangat mempengaruhi tingkat disiplin kerja kepada para guru di sekolah yang bersangkutan. Dengan begitu sebagai kepala sekolah tentunya atasan dalam sekolah tersebut harus selalu menjdi contoh untuk para guru di sekolah dengan selalu hadir dan tidak pernah terlambat ke sekolah.

Sebagai kepala sekolah juga harus dapat memberikan motivasi untuk meningkatkan disiplin kerja para guru di sekolah. Motivasi terbentuk dari sikap (attitute) karyawan dalam  menghadapi situasi kerja di perusahaan (situasion). Motivasi merupakan kondisi atau energi yang menggerakkan diri karyawan yang terarah atau teruju untuk mencapai tujuan organisasi perusahaan. Sikap mental karyawan yang pro dan positif terhadap situasi kerja itulah yang memperkuat motivasi kerjanya untuk mencapai kinerja maksimal. Sikap mental karyawan haruslah memiliki sikap mental yang siap sedia secara psikofisik (siap secara mental, fisik, situasi, dan tujuan). Artinya, karyawan dalam bekerja secara mental siap, fisik sehat, memahami situasi dan kondisi serta berusaha keras mencapai target kerja (tujuan utama organisasi).

Hal ini dapat membawa perubahan terhadap sikap para guru di sekolah dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab mereka.  Pemberian motivasi ini tidak harus dari kepala sekolah saja, namun juga bisa diberikan oleh masyarakat sekitar lingkungan sekolah tersebut, pihak keluarga, dan dari pihak dinas pendidikan sebagai supervisor para guru di sekolah. Kepala sekolah yang berhasil memberikan perhatian yang besar kepada para pegawai akan dapat menciptakan disiplin kerja yang baik. Pimpinan akan selalu dihormati dan dihargai oleh pegawai, sehingga akan berpengaruh besar kepada prestasi, semangat kerja, dan moral kerja pegawai.

Untuk fungsi penggerakannya sendiri perlu dilakukan dalam rangka meningkatkan kedisiplinan kerja para guru di sekolah sehingga mereka tidak lebih memilih kerja di ladang pertanian daripada mengajar di sekolah, padahal mereka memiliki tanggung jawab yang besar dalam mendidikan anak-anak di lingkungan tersebut. Mungkin tidak hanya pihak sekolah yang melakukan fungsi penggerakn ini, dari Pihak Dinas Pendidikan dengan begitu para guru merasa lebih diperhatikan dan dianggap keberadaanya.

Untuk memperoleh hasil yang lebih baik, kedua fungsi manajemen sumber daya manusia itu harus dijalankan bersama atau beriringan agar tidak terjadi ketidakseimbangan antara keduanya. Dengan menerapkan kedua fungsi tersebut maka guru yang tidak disiplin dan sering membolos akan merasa lebih dipedulikan. Mereka juga akan lebih mengerti akan tanggung jawab mereka sebagai pendidikan untuk mencerdaskan para generasi muda indonesia.

Pihak sekolah juga harus menerapkan tata terib yang dapat menegakan disiplin kerja guru maupun tenaga kependidikan di sekolah. Namun, untuk mengetahui apakah pegawai telah bersikap disiplin atau belum perlu diketahui kriteria yang menunjukkannya. Umumnya, disiplin kerja dapat terlihat apabila pegawai datang ke kantor teratur dan tepat waktu, jika mereka berpakaian rapi ditempat kerja, jika mereka menggunakan perlengkapan kantor dengan hati-hati, jika mereka menghasilkan jumlah dan kualitas pekerjaan yang memuaskan dengan mengikuti cara kerja yang telah ditentukan oleh organisasi dan jika mereka menyelesaikan pekerjaan dan semangat kerja. Peraturan-peraturan yang akan berkaitan dengan disiplin itu antara lain:

1)   Peraturan jam masuk, pulang dan jam istirahat,

2)   Peraturan dasar tentang berpakaian, dan bertingkah laku dalam pekerjaan,

3)   Peraturan cara-cara melakukan pekerjaan dan berhubungan dengan unit kerja lain,

4)   Peraturan tentang apa yang boleh dan apa yang tidak boleh oleh para pegawai selama dalam organisasi dan sebagainya.

 

Dalam menerapkan fungsi penggerakan dalam organisasi yang disini adalah sekolah itu sendiri, kepala sekolah harus mampu menjadi supervisor bagi para guru. Sebagai supervisor, kepala sekolah tersebut harus melaksanakan pendisiplinan dengan segera secara confidensial, imparsial, dan tanpa emosi. Setelah terjadi pelanggaran kedisiplinan, tindakan pendisiplinan segera dilakukan agar pelanggaran tidak berlangsung lama.selain itu, kerugian organisasi dan pegawai dapat dicegah agar tidak menjadi lebih besar. Pendisiplinan dilakukan secara confidental, artinya tindakan pendisiplinan hanya disampaikan kepada guru yang bersangkutan kepada guru lain atau tenaga kependidikan lainnya tidak boleh mengetahuinya. Pendisiplinan dilakukan secara imparsial, artinyatidak pilih kasih dan dilakukan secara objektif.

Semua tindakan pendisiplinan harus didokumentsikan secara tertulis, terperinci dan disimpan dalam file guru yang bersangkutan.tindakan pendisiplinan juga harus dijelaskan kepada guru yang bersangkutan sehingga dapat dipahami. Jika di kemudian hari guru yang bersangkutan di hukum dan menggugat kepengadilan, sekolah mempunyai bahan untuk mempertahankan diri. Jika dalam hal ini guru yang bersangkutan masih saja tidak disiplin maka pihak sekolah perlu melakukan kegiatan pengarahan yang merupakan fungsi dari manajemen Sumber Daya Manusia yang juga termasuk dalam penggerakan. Pengarahan merupakan aspek hubungan antar manusiawi dalam kepemimpinan yang mengikat para bawahan untuk bersedia mengerti dan menyumbangkan tenaga kerja efektif serta efesien untuk mencapai tujuan.

Dalam manajemen, pengarahan ini bersifat sangat kompleks karena disamping menyangkut manusia, juga menyangkut berbagai tingkah laku dari manusia-manusia itu sendiri. Manusia dengan berbagai tingkah laku yang berbeda-beda, memiliki pandangan serta pola hidup yang berbeda pula. Oleh karena itu dalam melakukan kegiatan pengarahan, kepala sekolah harus melakukan cara dalam memberikan pengarahan, salah satunya yaitu dengan memberikan perintah lisan dan tulisan, Kemampuan guru dan tenaga kependidikan untuk menerima perintah sangat mempengaruhi apakan perintah harus diberikan secara tertulis atau lisan saja. Perintah tertulis memberikan kemungkinan waktu yang lebih lama untuk memahaminya, sehingga dapat menghindari adanya salah tafsir. Sebaliknya, perintah lisan akan lebih cepat diberikan walaupun mengandung resiko lebih besar. Biasanya perintah lisan ini hanya diberikan untuk tugas-tugas yang relatif mudah serta peraturan yang diterapkan di sekolah agar tidak ada lagi yang berani melakukan pelanggaran. Tujuan dari fungsi penggerakan ini antara lain:

  • Ø Menciptakan kerjasama yang lebih efisien
  • Ø Mengembangkan kemampuan dan keterampilan staf
  • Ø Menumbuhkan rasa memiliki dan menyukai pekerjaan
  • Ø Mengusahakan suasana lingkungan kerja yang dapat meningkatkan motivasi dan prestasi kerja staf
  • Ø Membuat organisasi berkembang lebih dinamis

 

Dengan adanya tujuan yang akan dicapai, maka sekolah akan lebih mudah dalam memberikan pengarahan terhadap para guru dan tenaga kependidikan terutama kepada guru yang suka terlambat dan membolos. Dengan demikian sekolah tidak akan dirugikan lagi oleh guru-guru yang tidak memiliki tanggung jawab atas tugas dan kewajiban mereka. Mereka juga akan lebih berhati-hati dan tidak bertindak cerobah lagi terhadap tugas dan kewajiban yang mereka emban. Sekolah juga harus mampu memberikan peringatan yang tegas dan mengikat terhadap mereka yang terlalu menganggap remeh tugas dan kewajiban yang diberikan kepada mereka. Dalam melakukan fungsi tersebut kepala sekolah perlu bekerja lebih produktif dan bersikap obyektif. Dengan begitu kepala seokolah bisa bersikap adil dan netral, tidak memihak satu sama lain.

 

DAFTAR RUUKAN

 

Bennis, Warren, Menjadi Pemimpin Efektif (On Becoming a Leader), Alih bahasa Anna W.Bangun, Elex Media Komputindo, 1994

Wirawan.2009.Evaluasi Kinerjasumber Daya Manusia.Jakarta: Selemba Empat.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s